Breaking

Jumat, 04 Desember 2020

Kondisi Miris LPG RI, Produksi Stagnan

Baca Juga

 

Ilustrasi

Jakarta Kupasonline – Pemerintah memprediksi konsumsi LPG akan terus meningkat tiap tahunnya.  Namun produksinya stagnan.  

Sekretaris Jenderal Dewan Energi Nasional Djoko Siswanto mengatakan, setidaknya ada dua cara untuk menekan impor LPG yaitu dengan meningkatkan produksi LPG dari kilang baru di dalam negeri dan meningkatkan sumber pasokan gas, terutama yang mengandung rantai karbon propana (C3) dan butana (C4).

"Kita ada rencana membangun kilang," ungkapnya dalam akun YouTube IDX Channel, seperti dikutip dari CNBC Indoesia.

Cara kedua menurutnya adalah memaksimalkan produksi gas dalam negeri yang mengandung propana dan butana. Menurutnya, ini diperkirakan bisa diperoleh dari enam sampai tujuh lapangan gas baru di dalam negeri."Itu bisa menambah produksi sekitar 500 ribu ton per tahunnya sampai 2029," jelasnya.

LPG juga bisa disubstitusi dengan cara-cara lain, misalnya dengan jaringan pipa gas kota, kompor listrik, dan proyek gasifikasi batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME) atau methanol. Seperti diketahui, pemerintah mendorong hilirisasi batu bara melalui proyek gasifikasi yakni dengan memproses batu bara berkalori rendah menjadi DME.

Sebelumnya, Direktur Utama PT Bukit Asam Tbk (PTBA) Arviyan Arifin mengatakan dalam mengerjakan proyek gasifikasi ini pihaknya sudah melakukan studi kelayakan dengan melibatkan berbagai pihak, mulai dari para konsultan, para praktisi, dan para industrialis.

"Kita perlukan investasi hampir US$ 2 miliar ya atau sekitar Rp 30 triliun yang nanti akan dibangun oleh investor. PTBA akan suplai batu bara, nanti DME-nya disalurkan ke Pertamina," paparnya.Dia mengatakan, DME sebagai pengganti LPG, secara teknis dan ekonomis akan memberikan nilai yang lebih baik bagi pemerintah dan masyarakat. Subsidi bisa berkurang dan masyarakat mendapatkan harga yang lebih baik.

Bahkan, dengan memproduksi 1,4 juta ton DME per tahun mampu mengurangi impor LPG setara 1 juta ton per tahun. Ini artinya, ada penghematan devisa sekitar Rp 8,7 triliun per tahun. "Selain itu, kita bisa manfaatkan kalori rendah yang selama ini tidak mungkin dijual, tidak bisa diserap market, di mana yang selama ini tidak ada nilainya, maka kita olah menjadi DME," jelasnya.

Lebih lanjut dia mengatakan proyek DME ini diproyeksikan akan mulai operasi pada triwulan II 2024, sehingga paling tidak impor LPG mulai tahun itu hingga ke depannya bisa ditekan. (*/tin)

Sumber : CNBC Indonesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar