Breaking

Minggu, 06 Desember 2020

Rentan Rusak, Jadi Kendala Angkut Vaksin Covid-19

Baca Juga

Ilustrasi Vaksin virus Covid-19.



Jakarta, Kupasonline -- Vaksin virus Corona atau Covid-19 mulai beredar di pasaran. Saat ini, yang menjadi tantangan adalah logistik untuk pengirimannya.

Sebab, vaksin Covid-19 harus berada di suhu yang sangat rendah yakni di bawah 0 derajat celsius. Ini tentunya akan menjadi kendala yang dihadapi terutama oleh negara di Asia.

Dilansir dari Nikkei Asia pada Sabtu (5/12/2020), vaksin Covid-19 produksi Pfizer/BioNTech yang akan segera didistribusikan membutuhkan kotak khusus untuk penyimpanannya agar kualitasnya tetap terjaga.

Kotak yang dibuat secara khusus tersebut untuk dapat menyimpan 1.000 hingga 5.000 dosis pada suhu yang diperlukan minus 70 C hingga 10 hari, dan dapat dilacak melalui GPS.

Tak hanya untuk vaksin produksi Pfizer/BioNTech saja, vaksin yang dikembangkan Moderna juga harus disimpan pada suhu di bawah nol. Jika vaksin Pfizer/BioNTech pada suhu minus 70 C, untuk vaksin Moderna pada minus 20 C.

Diketahui, beberapa negara sudah memiliki logistik tersebut saat ini. Namun, masih banyak negara yang tidak memiliki sehingga dunia saat ini tengah mencari cara untuk bisa menciptakan logistik pengiriman vaksin tersebut.

Saat ini, perusahaan logistik asal Amerika UPS telah meningkatkan kapasitas produksi es kering nya menjadi 1.200 pound per jam karena kekhawatiran kurang, dan juga menyediakan freezer yang dapat mempertahankan suhu antara minus 20 C dan minus 80 C.

Sedangkan, FedEx telah menyiapkan lebih dari 5.000 pusat distribusi, 80.000 kendaraan pengiriman dan 670 pesawat untuk mendukung upaya distribusi vaksin Covid-19 ini.

Di antara banyak negara yang memiliki logistik ini, beberapa negara yang masih menghadapi tantangan untuk hal ini adalah India yang harus memberikan vaksin kepada lebih dari 1,35 miliar orang. Sedangkan di India sangat terik dan banyak daerah pedesaan yang sulit dijangkau infrastruktur rantai dingin.

India memang memiliki 28.000 unit jaringan penyimpanan dingin yang digunakan pemerintah untuk program imunisasi konvensionalnya, tetapi tidak ada perusahaan yang memiliki kemampuan atau kapasitas untuk mengangkut vaksin dengan suhu lebih dingin dari minus 25 C.

Oleh karenanya, Perdana Menteri India Narendra Modi mengatakan, negaranya memilih untuk menunggu vaksin yang lebih tahan panas atau lebih bagus yang di produksi di dalam negerinya.

Apalagi harga vaksin luar negeri disebutkan menjadi kendala lainnya sehingga India ingin menciptakan vaksin sendiri dan sedang menunggu mitra untuk menciptakannya.

"Dunia sedang mencari vaksin yang murah tapi efektif melawan COVID-19. Dunia sedang melihat India," kata Modi.

Tak hanya India, Filipina juga menghadapi tantangan serupa. Negara, yang memiliki salah satu kasus COVID-19 tertinggi di Asia Tenggara, ingin mendirikan fasilitas penyimpanan dingin di setiap wilayah atau menggunakan gudang perusahaan farmasi swasta.

Sebab, negara ini kekurangan fasilitas seperti itu dan pemerintahnya mengatakan siap mengeluarkan biaya untuk membangunnya. Namun, belum ada rincian untuk rencana Filipina tersebut.(*/dvi) 

Sumber : CNBC Indonesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar