Breaking

Senin, 10 Desember 2018

Tekan Hoaks, Google Utamakan Berita Media Mainstream

Baca Juga

Tekan Hoaks, Google Utamakan Berita Media Mainstream
BIJAKNEWS.COM -- Jelang pemilihan presiden pada April 2019, Google mengerahkan upaya memberantas berita hoaks dan informasi salah dengan mengandalkan teknologi kecerdasan buatan (AI).

Raksasa teknologi asal AS ini memastikan akan memprioritaskan berita kredibel dari media-media mainstream untuk untuk memerangi hoaks.

"Yang diberikan prioritas adalah berita-berita dari sumber terpercaya  dan kredibel. Jurnalisme merupakan pilar utama untuk menangkal hoaks," kata Head of communication Google Indonesia Jason Tedjasukmana usai acara Google Developer Showcase, di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, baru-baru ini.

Menurutnya, wartawan memiliki peran vital dalam memerangi hoaks di internet. Jason mengatakan peran wartawan tak lain untuk memberikan konten berita kredibel dan terverifikasi.

"Kami melihat perang melawan hoaks adalah wartawan dan jurnalistik turut ikut serta. Mereka harus menjaga kualitas yang jadi fundamental, di sisi lain Google juga memiliki misi harus mengelola  berita dunia agar bisa diakses di mana saja dan  kapan saja," ujarnya.

Jason menjelaskan ke depan Google akan melatih tiga ribu wartawan yang difokuskan untuk pengecekan fakta dan proses verifikasi berita. Menurutnya, inisiatif itu mendapat dukungan dari Dewan Pers Indonesia yang minta mewaspadai keberadaan media massa palsu dengan menebar hoaks saat pemilu.

"Kami akan melatih 3 ribu lagi karena semua orang berperan dalam melawan hoaks , jadi harapannya wartawan juga bisa kembangkan keterampilan agar kalian bisa diberdayakan dengan ilmu dan tools untuk memerangi hoaks," ungkapnya.

Jason mengatakan setiap orang yang menemukan konten hoaks atau negatif saat menggunakan internet bisa melaporkan ke Google. Nantinya, pihak Google akan menghapus konten di situs yang mengandung konten negatif.

Pernyataan ini seiring dengan komitmen pemerintahan Joko Widodo melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika yang menekan peredaran berita negatif. Kominfo melaporkan telah memblokir 912.659 situs negatif, lebih dari 854 ribu di antaranya mengandung konten pornografi.

Selain pornografi, situs-situs yang diblokir juga berbau konten negatif lainnya seperti perjudian, penipuan, SARA, terorisme atau radikalisme, hingga hak kekayaan intelektual,

Jika dirinci, terdapat 51.496 situs perjudian, 4.941 situs penipuan, 676 hak kekayaan intelektual, 453 situs terorisme, 186 SARA, dan masih banyak konten negatif lainnya.

(Sumber: cnnindonesia.com)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar