Breaking

Rabu, 25 September 2019

Jangan Abaikan Mualaf! Ingat, Mereka Tamu Allah!

Baca Juga

#Catatan Awaluddin Kahar, S.I.Kom

Wartawan dan Pemerhati Mualaf

KENAPA mualaf mesti diperhatikan? Kita jangan lupa, mualaf itu tamu Allah!

Sebagai bukti Allah muliakan mualaf, Allah sediakan satu asnaf (bagian) bahwa mualaf berhak menerima harta zakat. 

Oleh karena itu, jika ada mualaf yang datang minta haknya zakat, ya kita layani  saja mereka tanpa memberi beban padanya.

Beban apa itu? Misalnya, pengurus Amil Zakat tidak usah terlalu mendetil menanyakan motif ia masuk Islam. Konon lagi dengan nada tinggi.

Sebab pertanyaan yang sama tentu sudah diajukan pihak Kantor Urusan Agama (KUA) atau pengurus masjid serta pengurus Rumah Mualaf ketika seseorang itu disyahadatkan. Masuk Islam.

Dari pengamatan di lapangan, jumlah orang masuk Islam terus bertambah. 

Di antara mualaf ada sebagian  yang  berekonomi lemah. Miskin.

Artinya,   para mualaf baru   
tersebut butuh pembinaan tentang pemahaman agama yang benar. Kemudian ikhtiar (usaha) peningkatan ekonomi yang mumpuni.

Dari segi bahasa, mualaf berasal dari bahasa Arab, yang berarti tunduk, menyerah, dan pasrah.

Sedangkan, dalam pengertian Islam, mualaf digunakan untuk menunjuk seseorang yang baru masuk agama Islam. Tidak ada perbedaan mencolok dari dua pengertian tersebut.

Seseorang yang masuk Islam karena pilihan, tentunya telah mengalami pergulatan batin yang luar biasa dan pertimbangan yang matang.

Dia harus menundukkan hatinya untuk dapat menerima dan meyakini kebenaran baru. 

Banyak kisah sedih mualaf. Mereka  harus mempertimbangkan aspek sosial ekonomi sebagai konsekuensi atas pilihannya itu.

Karena mereka   akan kehilangan pekerjaan. Atau, bisa jadi dia akan dikucilkan dari keluarga, bahkan diasingkan dari komunitas lamanya.

Salah seorang mualaf yang merasakan perjuangan berat mempertahankan tauhidnya; Hilal Ramadan Gultum, 27 tahun.

Sekitar empat tahun lalu, alumni Universitas Negeri Padang (UNP) itu menentukan sikap bersyahadat. Mengakui tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah.

Ikrar syahadat itu sekaligus bertanda anak muda ini pindah agama. Dari agama kristen pindah memeluk Agama Islam.

"Saya bersyukur. Allah sayang sama saya. Allah beri saya hidayah masuk Islam," timpal Hilal begitu panggilan akrab Hilal Ramadhan Gultum.

Menurut Hilal, hampir semua keluarganya termasuk abangnya yang aparat mengancam dirinya.

Tapi  Hilal tidak bergeming. Sekali bersyahadat hingga ajal menjeput.

Melihat betapa kompleksnya dampak pilihan ini, maka apabila dia tetap merasa yakin dengan kebenaran Islam, dia harus berserah diri dan pasrah dengan risiko apa pun. Karena memang Islam datang untuk membawa manusia kepada penyembahan kepada Allah. 

Inti dari ajaran yang telah dibawa oleh sekian nabi dan rasul hanyalah ketauhidan itu.

Untuk membawa manusia semua di bumi ini agar menyembah kepada Allah SWT.

DAKWAH ILALLAH

Mualaf adalah bagian dari penyebaran Islam yang memang harus dilakukan.
Dakwah Ilallah. Islam sejak diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw di kota Mekkah selalu disebarkan. Berawal dari Mekkah, keluar kota Mekkah, ke Madinah hingga ke seluruh bagian lain yang ada di dunia ini.

Islam secara alamiah memang butuh ntuk disebarkan. Madinah sebagai pusat kedudukan islam pada saat itu juga menjadi pusat penyebaran agama Islam (dikutip dari beberapa sumber).

Islam disebarkan ke luar Madinah oleh kaum muslimin melalui utusannya.
Dalam penyebaran agama islam digunakan dua metode yaitu dakwah dan jihad. 

Dan dua metode ini menjadi sebuah metode tetap dalam Negara Islam di Madinah pada waktu itu menjalankan politik luar negerinya. 

Jadi politik luar negeri yang dijalankan oleh negara Islam pada saat itu hanya untuk mencapai dua tujuan tersebut yaitu dakwah dan juga jihad.

Dakwah yang dijalankan adalah untuk menyebarkan agama Islam. Dakwah dimulai dengan pengiriman surat kepada semua pemimpin negara lain.

Di alam surat tersebut ada tawaran Nabi saw kepada seluruh pimpinan tersebut apakah mau menerima Islam atau hanya tunduk pada kepemimpinan Negara Islam pada saat itu.

Sejarah mencatat, bagi yang mau menerima Islam maka secara otomatis Negara tersebut masuk ke dalam bagian dari Negara Islam Madinah. Dan akan dikirim utusan untuk mendakwahkan islam ke tempat tersebut. Utusan ini akan menerangkan bagaimana ajaran agama Islam, bagaimana penerapan hukum islam di negara mereka.

Bagi negara yang menolak untuk masuk islam maka akan diberikan tenggang waktu untuk sampai mau menerima dakwah tersebut. 

Jika memang sampai pada tenggang waktu yang diberikan negara atau daerah tersebut masih belum mau untuk menerima Islam maka jalan kedua yang akan dipakai yaitu dengan jihad. Jihad adalah perang.

Namun jangan bayangkan bahwa perang yang ada pada saat penyebaran Islam dulu sama dengan perang yang ada pada saat ini. Dimana perang pada saat ini banyak melibatkan masyarakat sipil yang tak berdosa atau bahkan tak mengerti sedikit pun tentang perang yang terjadi.

Perang yang dijalankan oleh kaum muslimin dahulu memiliki tujuan untuk menghilangkan hambatan fisik berupal institusi negara yang melarang adanya dakwah Islam di daerah mereka.

Perang yang dijalankan terjadi hanya di medan perang tanpa adanya perusakan sarana umum. Perang dilarang untuk membunuh masyarakat sipil yang tak ikut perang seperti kaum wanita, orang tua dan juga anak-anak. 

Bahkan perang juga tak boleh samai merusak lingkungan atau pun tumbuhan yang ada. 

Karena memang ada tempat tersendiri dalam menjalankan perang tersebut.
Dengan dua jalan inilah dilakukan penyebaran islam keluar dari Kota Madinah. Dan karena itulah masyarakat di seluruh dunia saat ini mengenal Islam dan tentunya ada yang memeluk agama Islam.
Setiap orang yang baru saja memeluk agama Islam akan disebut dengan sebutan mualaf. 

Islam memberlakukan beberapa hal berbeda dan khusus bagi mualaf yang tak dilakukan kepada semua muslim yang lain.

MUALAF  DIANCAM

Masa dahulu pada awal turunnya Islam sampai pada sekarang, menjadi seorang mualaf yang baru saja mengikrarkan ke Islamannya bukanlah menjadi hal yang mudah. 

Karena memang tak ada satu musuh Islam pun yang akan tenag melihat dari hari ke hari semakin banyak manusia yang memeluk agama islam.

Ada ancaman hilangnya jiwa. Kita liat bagaimana riwayat meninggalnya keluarga Amar bin Yassir saat disiksa oleh para pemimpin Quraisy karena tetap memegang teguh keimanan kepada Allah dan Rasulnya. Hilangnya harta juga menjadi sebuah konsekuensi dari ber Islamnya seseorang. 

Pada zaman sekarang tak sedikit peristiwa yang kita temui ketika seorang telah ber Islam ia ditinggalkan oleh keluarga dan saudaranya yang tak menyukai perilakunya tersebut. 

Atau bahkan ia dipecat dari pekerjaannya.
Islam juga melihat risiko ini sebagai sebuah realita yang mungkin terjadi. 

Maka, dengan pertimbangan itulah, mualaf harus mendapatkan perlindungan dan dimasukkan ke dalam golongan mustahiq, yaitu orang-orang yang berhak untuk mendapatkan zakat.

Hak itu diberikan bukan sebagai imbalan karena dia masuk ke dalam agama Islam.

Akan tetapi, semata untuk melindunginya dari kekufuran dan agar dia dapat melangsungkan hidupnya kembali secara wajar.

Memasukkan mualaf sebagai salah satu dari mustahiq bukanlah tak memiliki landasan. 

Karena memang selain ini dapat menyokong keuanganny secara langsung namun juga dapat digunakan sebagai sarana untuk lebih meneguhkan jiwanya berada di agama barunya ini.

Seberapa kaya ia, ketika seseorang baru saja berislam maka ia akan tetap dimasukan sebagai salah satu mustahiq yang berhak menerima zakat. 

Karena memang hal ini adalah sebuah hal yang telah mutlak disebutkan di dalam Al Quran. Dan memang bukan hanya maksud ekonomi yang ada di balik pemberian zakat ini namun juga ada maksud peneguhan yang telah disebutkan tadi.

LINDUNGI MUALAF 

Kita wajib memberikan perlindungan kepada mualaf. Sebab, apabila kehidupan seseorang justru jadi makin menderita setelah dia jadi mualaf, ini akan membawa citra buruk bagi Islam.

Di Indonesia, telah banyak yayasan dan organisasi yang mengurusi hal ini. 

Yayasan dan organisasi tersebut bukan hanya melakukan pendataan terhadap mualaf baru. Akan tetapi, juga memberikan serangkaian pelatihan untuk baca tulis Al-Quran, kajian hadits, dan upaya lain yang dimaksudkan untuk meningkatkan pengetahuan mereka terhadap ajaran Islam guna memperteguh imannya.

Selain itu, juga diberikan bantuan ekonomi kepada mualaf yang membutuhkan. 

Bantuan ini dimaksudkan untuk menumbuhkan kemandirian ekonomi mualaf. Agar mualaf yang tidak mampu, tidak selamanya mengandalkan hidup dari penerimaan zakat.

#Tulisan dilengkapi dari beberapa sumber, literatur  tentang mualaf.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar