Breaking

Minggu, 21 April 2019

Media Australia Ledek Prabowo dengan Sebutan Pecundang

Baca Juga

Media Australia Ledek Prabowo dengan Sebutan Pecundang

BijakNews.com -- Media Australia, theaustralian.com.au, melansir laporan dengan nada ledekan terhadap kandidat presiden Indonesia, Prabowo Subianto. Dalam judulnya, media itu terang-terangan menyebutnya sebagai sosok pecundang.

"Loser Prabowo claims victory on Indonesia," bunyi judul media itu dalam laporannya, Sabtu, 20 April 2019. Makna harfiah dari judul itu adalah "Pecundang Prabowo mengklaim kemenangan atas Indonesia".

Isi pemberitaan tersebut perihal aksi Prabowo Subianto yang terus bersikeras mengklaim bahwa dia adalah pemenang yang sah dari pemilihan presiden (pilpres) Indonesia 2019 yang digelar 17 April lalu.

Hasil hitung cepat atau quick count sejumlah lembaga survei menyatakan Prabowo yang berpasangan dengan Sandiaga Uno meraih 44 hingga 45 persen suara. Dengan angka itu, pasangan tersebut kalah dari kandidat presiden petahana Joko Widodo (Jokowi) dan pasangannya Ma'ruf Amin dengan perolehan suara 54 hingga 55 persen.

Laporan media asing itu mengulas aksi Prabowo yang deklarasi kemenangan di atas panggung yang disambut massa pendukungnya. "Ini adalah kemenangan bagi semua orang. Rakyat Indonesia telah sadar...mereka tidak ingin lagi dibohongi," kata Prabowo.

"Apakah Anda percaya pada para pengumpul suara itu?"

"Tidak," teriak para pendukung.

"Hai pembohong, orang-orang tidak percaya pada Anda. Kami tidak akan menerima upaya apa pun untuk menyangkal hak kami, tetapi kami akan selalu melakukan hal-hal sesuai dengan konstitusi,” lanjut Prabowo.

Berikut naskah laporan The Australian selengkapnya;

Loser Prabowo claims victory on Indonesia

Indonesia’s defeated presidential challenger Prabowo Subianto continued to insist he was the rightful winner of Wednesday’s bitterly fought elections yesterday, two days after early poll counts showed incumbent Joko “Jokowi” Widodo had been re-elected with a double-digit margin.

Mr Prabowo, who was backed by hardline Islamist groups, appeared at a mass gathering outside his campaign office in South Jakarta after Friday prayers to again claim the presidency and attack the credibility of pollsters who near universally found Jokowi had won.

While official results will not be released until late next month, all credible quick count surveys — which compile samples of open counting at the polling stations and are historically accurate to within 1 per cent — show Jokowi won by a margin of about 10 per cent.

Speaking on a street stage to several thousand supporters, the 67-year-old Suharto-era general said: “This is the victory for all the people. The Indonesian people have awoken … they no longer want to be lied to.

“Do you believe the pollsters?”

“No,” they shouted.

“Hey liars, people don’t believe you. We will not accept any effort to deny what is rightfully ours but we will always do things according to the constitution,” he said.

Earlier he attended a local mosque where supporters chanted “Prabowo president” as he left.

Jokowi has said he will not formally claim victory until the Election Commission’s official results next month, though on Thursday he acknowledged quick counts showed he had secured 54.45 per cent of the vote and that he had ­received numerous congratulatory calls from world leaders.

More than 160 million Indonesians are estimated to have voted this week in the world’s biggest one-day election exercise, casting ballots for the next president as well as 20,000 seats in the national, provincial, municipal and regency level legislatures.

But Mr Prabowo has repeatedly declared victory, citing his own team’s quick count survey that he claims shows he won 62 per cent of the vote. He told supporters on Thursday night: “Sandiaga Uno and I are declaring victory as the president and vice-president.’’

Mr Sandiaga, his 49-year-old running mate, was absent yesterday as he was Wednesday night when Mr Prabowo declared himself the election winner. Party officials explained his absence first on “non-stop hiccups”, then yesterday on suspected dengue fever.

As in 2014 when Mr Prabowo was first defeated by Jokowi, he has alleged widespread electoral “irregularities” and flagged a likely court challenge. He has also urged supporters to “guard the ballot boxes” to ensure against vote tampering as the commission’s ­official manual count continues.

Hours ahead of yesterday’s gathering, former president Susilo Bambang Yudhoyono — whose Democrat party aligned with Mr Prabowo for the campaign — warned against mass protests and urged party officials not to involve themselves in activities “that contravene the constitution and laws”.

It is the second time in a fortnight SBY has criticised his erstwhile ally, after issuing a statement expressing concern that Mr Prabowo’s rallies had taken on an ­increasingly sectarian hue.

Mr Prabowo’s supporters had hoped to stage yesterday’s event at the same central Jakarta monument that became the focal point for the 2016 mass protests against former Jakarta governor Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama, who was later jailed for blasphemy.

His backers include the Islamic Defenders’ Front and 212 Movement, two groups central to that campaign. But they were forced to shift the gathering after police ­denied them a permit and pointedly warned that mass demonstrations would “not be tolerated”.

“If there are any illegal or unconstitutional actions that threaten public stability and security, authorities will take firm action,” national police chief Tito Karnavian said late on Thursday. “I urge everyone against mass demonstrations, whether it’s to celebrate or to express dissatisfaction” at the results.

AMANDA HODGESOUTH EAST ASIA CORRESPONDENT
Amanda Hodge is The Australian’s South East Asia correspondent. Based in Jakarta, she has covered war, refugees, terror attacks, natural disasters and social and political upheaval from Afghanistan to Sri Lanka.

Terjemahan dari naskah laporan itu adalah;

Pecundang Prabowo mengklaim kemenangan atas Indonesia

Calon presiden yang kalah, Prabowo Subianto terus mengklaim dirinya menjadi pemenang yang sah dalam pertarungan Pemilu 2019 Rabu (17/4/2019) lalu, meski pada penghitungan cepat menunjukkan kemenangan atas Capres Joko “Jokowi” Widodo dengan margin dua digit.

Prabowo yang didukung oleh kelompok Islam garis keras, usai salat Jumat (19/4/2019), muncul dalam sebuah pertemuan di luar kantor pemenangannnya di Jakarta Selatan untuk kembali mengklaim dirinya unggul dan secara terang-terangan menyerang kredibilitas lembaga survei yang menyatakan Jokowi sebagai pemenang.

Sementara hasil perhitungan resmi tidak akan dirilis sampai akhir bulan depan, semua lembaga survei penghitungan cepat menunjukkan Jokowi menang dengan selisih sekitar 10 persen.

Berbicara di atas panggung di depan beberapa ribu pendukung, mantan jenderal TNI era Soeharto mengatakan, "Ini adalah kemenangan bagi semua orang. Rakyat Indonesia sudah sadar ... mereka tidak lagi ingin dibohongi.

"Apakah Anda percaya dengan pengumpul suara?"

"Tidak," teriak pendukung.

"Hai pembohong, orang-orang tidak percaya pada Anda. Kami tidak akan menerima upaya apa pun untuk menyangkal hak kami, tetapi kami akan selalu melakukan hal-hal sesuai dengan konstitusi,” katanya.

Sebelumnya dia menghadiri sebuah masjid lokal di mana para pendukung meneriakkan "presiden Prabowo" saat dia pergi.

Sementara itu, rivalnya, Jokowi mengatakan bahwa dirinya tidak akan mengklaim kemenangan secara resmi, sampai hasil resmi dikeluarkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) bulan depan, meski pada hasil hitung cepat ia dinyatakan unggul dengan perolehan suara 54,45 persen suara.

Ia bahkan sudah menerima banyak ucapan selamat dari para pemimpin dunia.

Seperti yang diketahui, lebih dari 160 juta orang Indonesia diperkirakan telah ikut serta dalam pemilihan umum sertentak terbesar di dunia.

Warga memberikan suara untuk presiden serta 20.000 kursi di legislatif tingkat nasional, provinsi, kota dan kabupaten.

Tetapi Prabowo berulang kali menyatakan kemenangan, dengan mengutip survei penghitungan cepat tim suksesnya sendiri yang mengatakan bahwa ia menang dengan perolehan 62 persen suara.

"Sandiaga Uno dan saya menyatakan kemenangan sebagai presiden dan wakil presiden,” katanya di hadapan pendukungnya, Kamis (18/4/2019) malam.

Sandiaga Uno, pasangan Wakil Presidennya yang berusia 49 tahun, sempat absen dua kali dalam pertemuan Rabu malam karena cegukan tanpa henti, kemudian kemarin diduga karena serangan demam berdarah.

Seperti pada 2014, ketika Prabowo dikalahkan pertama kali oleh Jokowi, ia juga menuduh terjadi kecurangan pada perhitungan suara. Dia juga mendesak para pendukung untuk menjaga kotak suara untuk memastikan tidak terjadi perusakan suara ketika penghitungan manual KPU dilaksanakan.

Beberapa jam sebelum pertemuan kemarin, mantan presiden Susilo Bambang Yudhoyono—yang partai Demokrat-nya bersekutu dengan Prabowo untuk kampanye—memperingatkan terhadap protes massa dan mendesak para pejabat partai untuk tidak melibatkan diri dalam kegiatan "yang bertentangan dengan konstitusi dan undang-undang".

Ini adalah kedua kalinya dalam dua minggu, SBY mengkritik mantan sekutunya, setelah mengeluarkan pernyataan yang menyatakan keprihatinan bahwa demonstrasi Prabowo telah mengambil rona sektarian yang semakin meningkat.

Pendukung Prabowo berharap untuk menggelar acara kemarin di monumen nasional (Monas) Jakarta Pusat, tempat yang sama yang menjadi titik fokus untuk protes massa 2016 terhadap mantan gubernur Jakarta Basuki "Ahok" Tjahaja Purnama, yang kemudian dipenjara karena kasus penistaan ​​agama.

Pendukungnya termasuk Front Pembela Islam dan Gerakan 212, dua kelompok yang menjadi pusat kampanye itu. Tetapi mereka dipaksa untuk menggeser lokasi pertemuan setelah polisi menolak izin mereka dan dengan tajam memperingatkan bahwa demonstrasi massa tidak akan ditoleransi.

"Jika ada tindakan ilegal atau tidak konstitusional yang mengancam stabilitas dan keamanan publik, pihak berwenang akan mengambil tindakan tegas," kata Kepala Polri Tito Karnavian, Kamis malam. "Saya mendesak semua orang menentang demonstrasi massa, apakah itu untuk merayakan atau untuk mengekspresikan ketidakpuasan atas hasil tersebut."

(Source: sindonews.com)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar